Kamis, 19 Januari 2012

MENDUNG TAK SELAMANYA HUJAN


 Mengapa langit berwarna biru
Menngapa awan selalu menghiasi langit
Mengapa langit memilki berbagai macam warna…
Terkadang biru…
Terkadang juga bisa berubah berwarna jingga..
Tapi dalam sekejap langit juga menampakkan kesedihan dengan warnanya yang kelabu…
            Saat ini gadis itu sedang duduk disebuah bangku yang terdapat di pinggir jalan. Ia duduk disana untuk menghilangkan penat yang terasa diseluruh tubuhnya. Ia sandarkan punggungnya kebelakang dan wajahnya menatap keatas. Pagi itu udara cukup dingin, daun-daun basah oleh embun pagi, burung-burung berkicau menyambut datangnya sang mentari pagi. Gadis itu memejamkan matanya sebentar dan kemudian membukanya lagi. Kali ini bola matanya yang bulat dan juga bersih itu tengah menatap langit yang masih sedikit gelap. Ia masih terus menatap langit,  entah apa yang sedang dipikirkannya. Disampingnya terletak dua buah tas yang cukup besar.
            “Ahh..hari ini kemana lagi?” ujarnya pelan dan khusus untuk dirinya sendiri. Matanya mulai memandang kesekeliling tempat itu. Sebuah kota yang begitu ingin Ia lihat, tapi setelah Ia melihatnya bukan keindahan yang tampak melainkan hiruk pikuk kota yang terlihat. Dan kini Ia terlantar, tidak tahu harus kemana di Ibu kota negaranya ini. Hari demi hari Ia lalui dengan susah payah, tidur disembarang tempat dan terkadang tidak makan sama sekali. Matahari mulai bersinar dengan terang, langit yang tadinya gelap berubah warnanya menjadi biru terang, sesekali awan putih berarak menghiasi langit biru itu. Gadis itu masih duduk disana, kini wajahnya terlihat karena disinari matahari, wajah itu tidak terlalu kurus tapi juga tidak gemuk, saat ini wajah gadis itu terlihat kotor. Sudah tiga hari Ia belum membersihkan diri, baju yang Ia kenakan pun sudah basah oleh keringat. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan sedikt menggerakkan tubuhnya. Selesai melakukan olah raga kecil itu kini Ia kembali berjalan menyusuri jalan raya yang akan membawanya entah kemana. Dalam pikirannya kini hanya ada satu Ia ingin mandi. Benar kali ini Ia ingin membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya. Dalam perjalanan matanya tetap awas memandang kekiri dan kekanan, berharap dapat menemukan WC umum atau bisa saja Ia menemukan mushola.
            Lama Ia berjalan dan beruntung sekali di ujung jalan terdapat sebuah masjid kecil yang cukup bersih. Ia langsung mempercepat langkah kakinya menuju masjid itu. Disana Ia mulai membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya. Ia juga tidak lupa untuk melaksanakan sholat sunah di masjid itu. Matahari terus berarak ke barat, jam sudah menunjukkan pukul 11.00, Syakila nama gadis itu, terus termenung didalam masjid. Otaknya mulai berpikir Ia harus mencari sebuah tempat tinggal dan juga pekerjaan.  Selesai membersihkan diri dan beristirahat sebentar, gadis yang kini tengah beranjak remaja itu melanjutkan lagi perjalanannya. Ia kini berjalan menyusuri kampong-kampung, berharap dapat menemukan sebuah tempat tinggal kecil yang bisa Ia sewa dengan uang yang kini Ia miliki. Banyak rumah yang telah Ia lewati namun tidak ada satupun yang dapat Ia sewa karena harga sewanya yang cukup mahal. Lelah kakinya melangkah, Ia putuskan untuk duduk disebuah warung kecil yang ada di pinggir jalan. Disana Ia melihat dua orang gadis yang lebih kecil darinya sedang mengamen dengan menyanyikan sebuah lagu yang kini sangat popular dikalangan anak muda. Terlintas dibenaknya untuk melakukan hal yang sama seperti dua gadis kecil itu, namun hal itu langsung ditepisnya. Bisa saja Ia melakukan hal itu tapi seperti yang Ia ketahui dari orang-orang dan juga berita di televisi bahwa kehidupan anak jalanan itu sangatlah susah, mereka harus berjuang untuk mencari makan dan terkadang mereka bisa juga terjerumus kedalam perbuatan-perbuatan dosa. Dilihatnya lagi dua gadis kecil itu dan kini mereka sudah ada dihadapannya untuk meminta sebagian rejeki mereka. Syakila merogoh sakunya bajunya yang cukup sempit itu dan beruntung sekali didalam sana Ia menemukan uang seribu rupiah, tak lama setelah itu Ia memberikan uang itu kepada dua orang gadis kecil yang masih setia berdiri dihadapannya. “Ini..”ujarnya dambil memberikan uang tersebut dan juga sedikit tersenyum. “Terimakasih Kak” ujar salah satu dari gadi kecil itu dan kemudian mereka berlalu pergi. Kini Syakila kembali merenungi hidupnya, tak lama Ia kembali berdiri dan kembali melangkahkan kakinya. Ditengah perjalannannya, dari kejauhan Ia melihat dua gadis kecil tadi sedang bertengkar dengan seorang pemuda yang berpakaian seperti preman. Pemuda itu merampas uang yang ada ditangan gadis kecil itu dan gadis kecil it uterus berteriak meminta uangnya dikembalikan. Melihat hal itu Syakila benar-benar merasa marah, Ia melangkah dengan cepat kearah preman tersebut dan dengan cepat Ia sudah merebut uang yang tadi diambil oleh preman itu.
            Orang itu begitu terkejut saat seseorang sudah merampas apa yang ada ditangannya. Preman itu jadi begitu marah dan mulai menyerang Syakila, namun hanya dengan sekali tendang saja Preman itu sudah terjatuh. Untunglah dulu Syakila pernah belajar beladiri dan ternyata hal itu sangat berguna disaat seperti ini. Pemuda yang bertampang menakutkan itu langsung lari namun tidak mau mengakui kekalahannya dan masih sempat mengancam Syakila.
            “Gue akan buat perhitungan dengan lo..” preman itu mengancam Syakila dan langsung pergi dari tempat itu. Kedua gadis itu langsung berlari menghampiri Syakila.
            “Kak..terimakasih ya” ucap gadis yang berkepang dua. Syakila hanya tersenyum dan mengembalikan uang yang ada ditangannya. “Nama Kakak siapa? Aku Rara dan ini adikku Evi” gadis berkepang dua itu memperkenalkan dirinya.
            “Nama Kakak Syakila dan sebaiknya kalian pulang kerumah, disini sangat berbahaya” ucap Syakila.
            “Kami memang akan pulang dan sepertinya Kakak sedang mencari tempat tinggal” Rara meilhat kearah tas yang dibawa oleh Syakila. “Kakak bisa tinggal bersama kami, benarkan Vi” ujarnya lagi dan melihat kearah adiknya, lalu mereka berdua mengangguk. “Benarkah? Apa orang tua kalian tidak akan marah?” Syakila menatap kedua gadis kecil itu dengan pandangan penuh tanya. Evi menggeleng dan mulai menanggis sedangkan Rara menundukkan wajahnya menatap tanah.
            “Mereka tidak akan marah…”ujar Rara pelan “Karena mereka tidak ada dirumah. Mereka pergi meninggalkan kami sendirian dirumah” ujarnya lagi dan mulai menanggis.
            Mendengar hal itu Syakila jadi merasa bersalah karena sudah bertanya. Ia mulai memeluk kedua gadis kecil itu dan mencoba menenangkan mereka. “Jangan menanggis lagi, mulai sekarang Kakak yang akan menjaga kalian berdua, jadi jangan menanggis lagi” ucap Syakila. Hari ini Ia telah menemukan sebuah rumah dan juga dua orang adik untuk Ia jaga dengan baik. Syakila berjalan dengan mengandeng kedua gadis kecil itu, mereka terlihat seperti Kakak dan adik yang sesungguhnya.
***
            Udara masih sangat dingin saat Syakila keluar dari rumah kecil itu yang kini menjadi rumahnya. Hari ini Ia harus berusaha mencari pekerjaan agar bisa memberikan kehidupan yang layak untuk kedua gadis kecil yang kini telah menjadi adiknya itu. Semalam Ia telah berjanji akan memasukkan Rara dan Evi kesekolah dasar. Karena itulah kini Ia harus mencari uang untuk mereka. Kedua gadis kecil itu masih tertidur dengan pulas saat Syakila keluar, Ia juga sudah menyiapkan sarapan untuk adik-adiknya itu. Kini Ia mulai melangkahkan kakinya menyusuri jalan jalan kecil dan sederetan rumah yang ada disana. Syakila mulai mencari tempat-tempat yang akan Ia datangi untuk mencari pekerjaan. Tapi hampir semua toko dikawasan itu masih belum buka, hanya satu tempat yang Ia lihat sudah terbuka. Sebuah tempat yang menjual berbagai macam Koran. Ia beranikan diri untuk masuk ketempat itu dan beruntung sekali Karena pemilik tempat itu begitu ramah. Hari itu juga Ia sudah bisa bekerja disana. Ia bertugas menjual Koran-koran itu dijalan.
            “Koran…koran pak..koran..koran” Ia terus menyusuri jalan raya dan sesekali naik keatas metromini yang sedang berhenti. Hari semakin siang dan setengah dari Koran yang di jualnya telah habis dibeli oleh penumpang dan juga pengendara mobil dan motor yang ada dijalan itu. Kini Ia berjalan kembali ke tempat dimana Ia mengambil Koran-koran tersebut. Setelah mengembalikan Koran-koran yang tidak terjual Syakila menerima uang yang tidak terlalu banyak dari pemilik toko itu. Walaupun tidak banyak tapi baginya uang itu cukup untuk Ia dan juga kedua adiknya.
            Syakila berjalan dengan ringan menuju gang rumahnya kini. Tadi sebelum pulang Ia sempatkan untuk pergi ke warung makan dan membeli tiga bungkus nasi plus lauk pauknya. Ia sangat yakin pasti Rara dan Evi sangat senang dengan apa yang Ia bawa kini.
Syakila berjalan dengan tenang melewati rumah dan warung yang ada di kawasan kampung melayu itu. Kakinya terhenti ketika seseorang menyapanya ramah.
            “Baru pulang Syakila?” tanya seorang wanita tua pemilik warung kopi yang ada disana. Syakila merasa kaget saat wanita itu menyapanya. Ia baru satu hari berada dikawasan tersebut dan ternyata kini sudah ada orang yang mengenalnya.
            Syakila berusaha untuk tersenyum dan menjawab pertanyaan itu “Iya Bu,tapi kalau saya boleh tahu, Ibu ini siapa ya dan kenapa bisa tahu nama saya?” tanya syakila panjang lebar. Mpok Imah biasanya orang-orng memanggilnya hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu “Saya Imah, yah biasanya orang-orang disini manggil saya Mpok Imah. Tadi Rara sama Evi cerita katanya mereka sekarang punya kakak, cantik lagi dan mereka juga memberitahukan saya nama kamu”
           “Oh, jadi Rara sama Evi yang ngasih tahu mpok Imah nama saya” Syakila menganggukkan kepalanya tanda mengerti. “Kalau begitu saya pulang dulu ya Mpok, kasian Rara sama Evi nungguin” Syakila pamit dan beralalu dari sana. Ia merasa cukup senang hari ini karena bertemu dengan orang-orang yang baik. Dirumah Rara dan Evi menyambutnya dengan senyum lebar. Baru hari ini mereka merasa sangat bahagia. Biasanya mereka selalu menunggu kedua orang tua mereka yang tidak pernah kembali. Namun kali ini berbeda orang yang sekarang mereka tunggu akan selalu pulang kerumah itu, seorang kakak yang sangat mereka impikan.
            Syakila menunjukkan makanan yang baru saja dibelinya. Rara dan Evi tampak begitu senang saat mata mereka melihat begitu banyak makanan lezat yang tidak pernah mereka rasakan. Syakila juga membelikan mereka buku cerita yang yah walaupun murah tapi tetap masih bisa dibaca. Kedua gadis kecil itu tampak begitu senang, dari dulu mereka memang ingin sekali bisa membaca dan menulis dan hal itu kini tampaknya bisa terwujud.
***
            Hari terus berlalu seperti biasanya. Kehidupan Syakila dengan kedua adik angkatnya tak juga kunjung berubah. Namun walau seperti itu Ia tetap bekerja agar kedua adiknya itu dapat belajar membaca dan menulis. Kini Ia duduk termenung di dipinggir jalan. Ia berpikir akan mencari pekerjaan lain selain menjadi loper Koran. Tapi pekerjaan apa yang harus Ia lakukan!. Masih dalam keadaan melamun tiba-tiba dari jalan terdengar suara seseorang memanggilnya.
            “Hei..Koran” jerit suara itu berkali-kali. Syakila yang tadinya melamun langsung tersadar dan berlari kearah orang yang ingin membeli korannya itu.
            “Koran Pak” ucap Syakila ringan. “Iya. Saya mau beli Koran, dari tadi saya panggil-panggil kok baru nyahut sekarang” ucap Bapak-bapak yang membeli korannya dengan nada sedikit kesal.
            “Maaf pak, tadi saya lagi melamun..” ucapnya dan langsung tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapi. Bapak-bapak itu memilih Koran yang ingin dibacanya dan setelah itu Ia mengeluarkan uang lembaran sepuluh ribu dari kantong bajunya.
            “Ini..dan kembaliannya ambil saja untuk mu” ujar Bapak-bapak itu. Syakila menghentikan tangannya yang sibuk mencari uang receh untuk kembalian bapak itu. Ia bengong dan merasa tidak percaya dengan pendengarannya. Benarkah kembalian uang ini untuknya?!. Masih dengan rasa tidak percaya Ia masih sempat mengucapkan terimakasih pada bapak yang baik itu. Ia kembali menyebrangi jalan dengan tenang dan perasaan yang bahagia tanpa disadarinya dari tadi sudah ada orang-orang yang mengikutinya dari jauh. Sampai disebrang Syakila kaget karena kini jalannya dihalangi oleh preman-preman yang sepertinya pernah Ia lihat. Orang-orang itu langsung merampas tas miliknya.
            “Wah..banyak juga uangnya” salah satu dari preman itu berkata. Syakila memperhatikan mereka satu persatu dan ternyata benar, orang-orang itu lah yang dulu juga ingin merapas uang milik adik angkatnya. “kembalikan…”ucap Syakila tegas. “Apa..kembalikan, daerah ini adalah kekuasaan kami jadi uang ini adalah milik kami. Apa kau mengerti” ucap seorang yang dipanggil bos oleh yang lainnya. Syakila langsung menarik tas miliknya dari tangan orang itu. Perkelahian pun terjadi. Syakila melaean mereka satu persatu namun karena terlalu banyak, akhirnya syakila terjatuh. Salahsatu dari orang itu sempat ingin menusuknya. Namun hal itu tidak sampai terjadi Karena polisi sudah datang dan menangkap mereka semua. Syakila yang pingsan dibawa kerumah sakit, untunglah tidak ada luka yang serius.
           Sore itu langit terlihat mendung. Sama seperti hati kedua gadis kecil yang sedang duduk dipinggir tempat tidur syakila. Mereka menyentuh tangan syakila. Syakila pun perlahan demi perlahan membuka matanya. Ia tersenyum.
 Langit sore itu memang begitu mendung namun mendung tak selama akan turun hujan. Sama seperti kehidupan yang kini mereka jalani. Kemiskinan tak selamanya membawa kesedihan, namun terkadang kehidupan yang seperti itu harus lebih dihargai dengan kerja keras.

Cerpen - SENYUM UNTUK VITA

      Pagi ini hujan turun deras seakan mewakili hatiku yang sedang bersedih. Aku masih duduk termenung diteras depan. Masih terngiang-ngiang ditelingaku perkataan Bunda Tarsih kepala yayasan panti asuhan tempatku berada “Ingat Vita, jadilah anak yang baik. besok pagi akan datang keluarga yang akan mengadopsi mu”.  
      Sebenarnya aku tidak ingin pergi dari tempat ini. Disinilah aku dibesarkan dari kecil. Aku memang tidak pernah tahu siapa orang tuaku. Apakah mereka masih hidup? Kalau masih dimana mereka saat ini? Kenpa mereka meninggalkanku disini? Ataukah mereka sudah tidak ada lagi didunia ini. Kalau benar dimana mereka dimakamkan? Aku tidak tahu. “Vita..Vita…” Suara Bunda Tarsih menyadarkanku dari lamunan. “Ya Bunda. Aku ada disini” jawabku dengan sedikit berteriak. Terdengar suara langkah kaki yang cukup berat berjalan menghampiriku. “Vita, ayo nak ikut Bunda sebentar. Ada yang mau bertemu denganmu”
      “Siapa Bunda” tanyaku dengan kening berkerut. “Nanti juga kamu tahu, yuk”
      Bunda Tarsih menarik lenganku dengan lembut, mau tidak mau aku harus ikut dengannya menemui orang itu. Saat sampai didepan pintu kantor Bunda Tarsih aku langsung menghentikan langkah kaki ku. Bunda Tarsih bingung dengan sikapku saat itu. “Kenapa, ayo masuk” Aku menggeleng tidak mau. “aku disini saja ya Bunda” pintaku dengan wajah memelas. Melihat wajahku yang sedih Bunda Tarsih pun meng-iyakan dan masuk kedalam sendiri. Dari luar aku bisa mendengar suara seorang wanita yang menurutku sangat lembut ditelingaku sedang berbincang-bincang dengan Bunda Tarsih. Semakin lama aku mendengar suara Wanita itu membuatku semakin penasaran ingin melihatnya. Aku beranikan diri untuk mengintipnya dari balik pintu tapi aku tidak dapat melihatnya dengan jelas karena terhalang oleh pintu besar yang ada dihadapanku ini. Walaupun begitu aku bisa menangkap sedikit mengenai wanita itu. Aku bisa melihat wanita itu sangat cantik dan sepertinya juga sangat ramah. Aku tersentak kaget saat Bunda Tarsih memanggil namaku. “Vita, ayo masuk nak” Sesaat aku ragu untuk melangkahkan kaki ku kedalam ruangan itu. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang lebih kuat menarikku untuk masuk kedalam. Setelah berada didalam aku bisa melihat dengan jelas Wanita yang sedang duduk itu tersenyum menatapku. Dari tatapan matanya aku bisa merasakan kehangatan seorang ibu.
     “Nah, ini yang namanya Vita, ayo beri salam sama Bu Kasih nak” ujar Bunda Tarsih memperkenalkanku pada wanita itu. Aku berjalan mendekatinya dan mencium tangannya. Dia membalas salamku dengan belaian lembut dikepalaku.
      “Nak, kamu mau kan tinggal dengan Ibu?” Pertanyaan itu membuatku kaget. Aku tidak tahu harus menjawab apa. kupalingkan wajahku kearah Bunda Tarsih. Dari wajah Bunda bisa kulihat kesedihan sekaligus kebahagiaan. Aku tidak mau mengecewakan Bunda. “Iya” jawabku sambil mengangguk. Kulihat lagi wajah Bunda Tarsih, kini Ia tersenyum bahagia melihatku.
***
      “Ma, aku berangkat dulu ya” aku mencium tangan Mama yang sedang berada didapur. “Vita, kamu gak bareng sama Rio dan Lia” tanya Mama
Aku langsung menggeleng “Aku naik angkot aja ma. Lagian kan dekat” jawabku sambil tersenyum.
      “Kok senang banget sih naik angkot. Padahal kamu bisa diantar sama Pak Norman atau gak ikut kakak kamu naik mobilnya” Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Mama dan berjalan keluar rumah. Hah!. Benar dirumah memang banyak mobil, benar aku bisa diantar dengan Pak Norman dan benar juga aku bisa pergi bareng Kak Rio dan Lisa. Tapi itu semua tidak mungkin bisa. Sepuluh tahun yang lalu aku datang kerumah ini sebagai anak angkat. Aku tidak tahu kenapa Mama mengadopsiku, padahal Mama sudah punya dua orang anak. Saat datang kerumah ini aku sangat berharap bisa mendapatkan banyak kasih sayang dan cinta. Memang Mama sangat sayang padaku tapi berbeda dengan Papa, Kak Rio dan Lisa mereka tidak menyukai kehadiranku disini. Karena itulah aku tidak bisa pergi dengan mereka.
      “Hei..ngalamun aja! ntar kesambet loh” Aku terkejut. Ini orang ngagetin aja sih.
Dengan malas kutolehkan mukaku. Ternyata Hesti sahabatku. Dasar usil, kerjaannya ngagetin aja. “Biarin….daripada lo pagi-pagi kerjaannya ngagetin orang”
      “Ciee..marah nih..baru gitu doang” goda Hesti. “Siapa juga yang marah..” jawbku dengan wajah cemberut.
      “Memangnya lagi ngelamunin apa sih?” tanya hesti lagi “Ada deh….pengen tau aja” jawabku. Hesti terus saja menggoda ku sampai angkot yang kami naiki berhenti didepan gerbang sekolah. Kumasuki halaman sekolahku. Saat melangkah masuk seulas senyum sudah menyambut kedatanganku dan Hesti. Ya setiap pagi satpam penjaga sekolah ku ini selalu memberikan senyuman yang hangat. Pagi itu suasana kelas seperti biasa, berisik seperti dipasar!. Kulihat teman-temanku sibuk pinjam ini itu dengan yang lain. Pasti mereka belum ngerjain Pr bahasa inggris dari Bu Dian deh.
      “Eh Hes, lo udah ngerjain pr bahasa inggris?” Hesti langsung menjitak jidatnya dan menggeleng “Gila gue lupa sama Pr nya Bu Dian. Gimana nih? Gue nyontek pr lo deh Vit” Aku langsung geleng-geleng kepala dengan sikap Hesti. Kalo aku gak kasih liat kasian dia nanti di marahin habis-habisan didepan kelas. Terpaksa kali ini aku harus menolongnya.
      “Tapi cuma kali ini aja lo gue kasih pinjem” Hesti mengangguk dan langsung menyalin tulisan yang ada dibukuku kedalam bukunya.
      Bel pulang berbunyi. Aku menghela nafas panjang. Seharian ini suasana dikelas membosankan. Apalagi tadi ulangan Bahasa Inggris mendadak. Tambah mumet otakku. “Pulang yuk Vit” ajak Hesti. Aku mengangguk, lalu menjejeri langkahnya meninggalkan kelas. Saat sampai dihalaman sekolah, aku melihat Lisa dijemput oleh Kak Rio.
      “Vit, itu Kaka sama adek lo. Gue heran kenapa lo gak pulang bareng mereka aja sih?” Aku menghela nafas dan tersenyum “Gak kenapa-kenapa kok. Gue lebih suka naik angkot” jawabku bohong.  Aku dan Hesti duduk di halte menunggu angkot yang datang.
      Setelah turun dari angkot yang aku naiki kulanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki menyusuri jalan komplek rumahku. Siang itu udara sangat panas, matahari sepertinya sangat senang sekali memancarkan cahayanya ke penjuru kota. Aku terus berjalan dengan langkah pelan.
      “Vita” sebuah suara berseru memanggil namaku. Ku hentikan kaki ku melangkah dan kutolehkan mukaku kebelakang melihat siapa orang yang sudah memanggil ku tadi. Dari jauh aku bisa melihat sosok laki-laki yang seumuran denganku berlari menghampiriku. “Ditya” gumamku pelan.
      Ditya sudah berdiri dihadapanku dengan wajah penuh keringat dan rambut yang berantakan, tapi anehnya wajah tampannya itu tetap saja tampan walau seperti itu.
      “Lo cepet banget sih jalannya” ujarnya dengan napas yang ngos-ngosan.
      “Emangnya dari tadi lo ngikutin gue?”tanyaku bingung. Sebelum menjawab Ditya terlihat seperti mengatur napasnya. “Iya” dia tertawa manis.
      Ditya adalah cowok super keren yang menjadi idola cewek-cewek disekolah termasuk Lisa. Ditya sangat dekat dengan Lisa dan Kak Rio. Dan sekarang kenapa bisa dia mengikutiku. Benar-benar hal yang aneh.
      “Oh, lo pasti mau kerumah dan ketemu sama Lisa, yak an?” tanyaku sok tahu. Ditya tampak bingung “Kenapa gue mau ketemu Lisa?” ucapnya balik bertanya.
      “Oh kalo gak gak ketemu Lisa berarti ketemu sama Kak Rio ya?”tanyaku lagi. Ditya masih menggelengkan kepalanya. “Trus lo mau ketemu siapa?” tanyaku penasaran. “Gue mau ketemu lo” jawabnya santai.
      “Hah! Ke..ketemu gue” aku sedikit gugup saat menjawab karena selama ini Ditya gak pernah dekat denganku. Dan tiba-tiba saja sekarang dia mau ketemu aku, ini pasti mimpi. “Yuk jalan” ujarnya sambil menggandeng tanganku.
Dan dari kejauhan sepasang mata melihat mereka dengan iri dan marah.
***
      “Vita, maksud lo apa sih sebenarnya deketin Ditya?” tiba-tiba lisa datang kekamarku dengan marah-marah dan tanpa permisi.
      “Deketin Ditya? Aku gak pernah deketin Ditya” jawabku. Lisa masih saja tidak percaya dengan apa yang aku katakana dan terus marah-marah gak jelas.
      “Gak pernah lo bilang, trus kemarin ngapain lo gandengan tangan sama dia” cecarnya lagi. Sepertinya aku sudah mengerti apa yang menyebabkan Lisa marah-marah seperti ini. “Oke, biar aku jelasin dulu. Pertama bukan aku yang mau menggandeng tangan Ditya tapi dia yang gandeng tangan aku dan yang ke dua aku gak pernah merebut siapapun dari kamu, jelas” jawabku dengan lantang
      Lisa sedikit tertegun saat mendengar kata-kata ku. Dia seperti sedang mencerna semua yang aku katakan dan sepertinya dia juga sedang mencari kata-kata yang tepat untuk membalas kata-kataku tadi. “Lo tuh…” Lisa ingin berkata lagi namun hal itu tidak berlangsung lama, Lisa tidak bisa membalas ucapanku, mungkin dalam hatinya dia membenarkan setiap apa yang aku katakan
***
      Hari ini sangat berbeda dengan hari kemarin. Hari ini langit begitu mendung, anginnya juga begitu kencang sepertinya sangat tidak bersahabat. Dari dalam kelas aku dapat melihat Lisa berjalan dengan Ditya. Lisa merangkul tangan Ditya dengan begitu manja, tapi dilain pihak orang yang dirangkul sepertinya ingin sekali melepaskan dirinya dari rangkulan tangan gadis itu.
      “Dit, besok kamu bareng aku aja ya ke ultahnya Risa?” pinta Lisa dengan suara manja. “Lo kan biasanya diantar sama Kakak Lo, Rio” ujarnya malas.
      “Iya, tapi sekali-kali kan aku juga mau bareng sama kamu jalannya” ujarnya manja. Ditya seperti sedang berpikir sebelum menjawab permintaan Lisa.
      “Sorry Lis, besok kayaknya gue gak bisa bareng lo. Coz teman-teman gue udah pada janjian sama gue buat pergi bareng” ujarnya memberi alasan. Hal ini membuat Lisa merasa sebal pada Ditya, tapi perasaan ini tidak dia tunjukkan, jaim gitu loh!.
***
      “Kak, aku boleh bareng gak ke ultahnya Risa?” pintaku sambil memelas.
      “Kenapa? Bukanya kamu suka naik angkot dan lagi Lisa ngajak teman-temannya, kemungkinan besar kamu gak bisa naik”  Aku sedih mendengar jawaban yang Kak Rio berikan. Lisa..lisa..lisa terus, memangnya adik Kak Rio itu cuma Lisa ya..Huh! gerutuku dalam hati dan pergi meninggalkan Kak Rio.
      “Ma, Pa..aku pergi dulu ya ke ultahnya Risa” pamitku pada Papa dan Mama yang asik nonton televisi. “Pergi sama siapa Nak?” tanya Mama
      “Sendiri Ma, naik angkot” jawabku sambil melirik kearah Papa yang memang tidak pernah peduli padaku.
      “Yaudah, kalo gitu hati-hati ya” Aku mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan rumah.
      Saat berada dirumah Risa aku duduk termenung di sudut taman. Kulihat Hesti sibuk mondar-mandir mengambil makanan yang disajikan.
      “Hei Vit, lo gak makan?” tanya Hesti yang telah duduk disampingku.
Aku menggeleng “Gue gak laper”
      “Wah rugi loh kalau lo gak nyoba makanannya. Ini enak loh” jawab Hesti sambil menunjukkan berbagai kue yang sudah diambilnya. Melihat kue-kue itu aja aku gak berselera. Hah!. “Hesti, gue pulang sekarang ya” aku berdiri dari duduk ku.
Hesti langsung menghentikan makannya dan menatapku heran  “Loh kok gitu?”
      “Gue lagi males aja hari ini. Nih kado gue titip ke lo ya, jangan lupa dikasih ke Risa” ujarku. Belum jauh aku berjalan sebuah tangan telah menarik tanganku dan membuatku berhenti berjalan. Ku lirik pemilik tangan tersebut “Ditya, tolong lepasin tangan gue” ujarku dengan nada sedikit kesal. “Lo, mau kemana Vit. Pesatanyakan belum selesai” ujar Ditya tanpa melepas pegangannya.
      “Gue mau pulang, jadi please lepasin tangan gue” pintaku lagi kali ini dengan nada yang tidak seperti tadi. “Ditya” sebuah suara memanggil Ditya dan orang itu berlari-lari kecil kearah kami. “Ngapain kamu disini, kesana Yuk” Lisa langsung menarik Ditya kearahnya dan hal itu menyebabkan tangannya yang memegang lenganku terlepas.
      Melihat adegan itu aku jadi merasa risih dan tersisihkan, karena tanganku telah dia lepas aku langsung berlari menuju jalan raya tanpa melihat kiri dan kanan. Namun tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berjalan dengan kencang dari arah sebelah kanan dan kakiku yang sudah melangkah berhenti tiba-tiba ditengah-tengah jalan. Aku tidak bisa menghindari mobil itu lagi, mobil itu menabrakku hingga aku terpental cukup jauh dan terjatuh tepat diatas sebuah potongan kaca. Masih sempat kudengar orang-orang sekitar memanggil namaku tapi lama-kelamaan suara-suara itu mulai lenyap dan pandanganku mulai kabur, lama-kelamaan yang terlihat hanya gelap..gelap..dan gelap.
“Apa?!” suara Bu Kasih memecahkan keheningan. Dari mata indahnya menetes sebutir air bening..Ia menangis. Pak Sofyan suaminya yang saat itu ada disana melihatnya dengan perasaan bingung karena saat itu istrinya menangis. Ia kemudian berjalan mendekati istrinya dan masih dilihatnya mata indah itu masih mengeluarkan air mata.  “Pa, Vita…vita” ujarnya lirih.
      “Hah, anak itu lagi. Apalagi sekarang ulahnya” ucap Pak Sofyan sinis
      “Vita kecelakaan Pa” ujar Bu Kasih dengan suara bergetar.
Mendengar hal itu Pak Sofyan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Melihatnya Bu Kasih menjadi marah. “Apa Papa gak punya hati. Ingat Pa, Vita itu anak kandung Papa” ujar Bu Kasih marah.
      “Praaanggg..” terdengar suara gelas pecah. Bu Kasih dan Pak Sofyan kaget saat mendengar itu. Mereka langsung melihat kearah sumber suara dan disana telah berdiri Rio yang tertegun tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
      “Jadi…Vita itu adik kandung Rio Pa. Benar Pa?” tanya Rio. Pak Sofyan hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan anaknya itu. “Pa, tolong jawab pertanyaan Rio ini Pa. Ma, tolong jawab ma” kini matanya beralih kearah Mamanya. Bu Kasih menghela nafas dan mulai berkata “Iya Rio, Vita itu adik kandung kamu” ujar Bu Kasih sambil menatap Rio. Bu Kasih akhirnya harus menceritakan semua rahasia yang selama ini disimpannya sendiri. Rio menatap marah kepada Papanya. “Lalu sekarang Vita ada dimana Ma?” tanya Rio
      “Vita ada dirumah sakit. Sekarang Mama mau kesana, kamu mau ikut?”
Rio mengagguk. Ia kemudian mengikuti Bu Kasih dari belakang.
Pak Sofyan masih duduk termenung diruangan itu. Kesunyian membawanya ke masa lalu. Ya Vita adalah anak kedua dari istrinya yang telah meninggal, karena itu Ia sangat membenci Vita. Sangat lama Ia duduk termenung mengenang masa lalu sampai Ia teringat kembali janjinya pada Anisa istri yang sangat dicintainya namun telah pergi kepangkuan Tuhan “Pa, kalau anak kita lahir dan Mama gak bisa nemenin Papa lagi..Papa mau kan menjaga anak-anak kita, memberikan mereka banyak cinta dan kasih sayang” kata-kata itu terus bergema diruangan sunyi itu. Benar saat itu Ia sudah berjanji untuk menyayangi dan mencintai anak-anaknya walau istrinya tidak ada didunia ini lagi, tapi kenyataannya Ia telah mengingkari janjinya pada Anisa. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya yang sayu. Ia menangis, menyesal karena telah mengingkari janjinya pada Anisa, menyesal karena telah membuang anak perempuan satu-satunya yang diberikan Anisa.
      Dokter-dokter terus keluar masuk ruang itu, ruangan dimana Vita kini terbaring tak berdaya, ruangan dimana Vita harus berjuang untuk hidup. “Dokter, bagaimana keadaan anak saya” tanya Bu Kasih
      “Saat ini kondisi pasien sangat kritis, dia mengalami luka yang cukup parah. Kaca menancap sangat dalam pada punggunngya, kami harus berhari-hati untuk mengeluarkannya. Saya minta Ibu berdoa saja agar operasi ini berjalan lancar”. Mendengar penjelasan dokter air mata Bu Kasih kembali mengalir. Ia seakan tak sanggup lagi berdiri hingga Lisa yang sudah dari tadi ada disana harus memeganginya. Sedangkan Rio merasa sangat bersalah, kenapa Ia tidak mau mengantar adiknya itu tadi, Ia sangat membenci dirinya saat ini.  Operasi yang dilakukan memakan waktu sekitar tiga jam. Bu Kasih, Rio dan Lisa masih menunggu diluar tanpa beranjak sedikitpun. saat sedang menunggu, mereka tidak menyangka kalau Pak Sofyan sudah berada disana. “Papa!” ucap Rio kaget . Pak Sofyan berjalan mendekati keluarganya. “Rio, maafkan Papa atas semua ini” ucap Pak Sofyan dengan menangis. Rio langsung memeluk Papanya sedangkan Lisa yang tidak tahu apa-apa merasa bingung dengan apa yang dilihatnya. Bu Kasih yang melihat itu akhirnya menceritakan semua kebenaran mengenai siapa Vita sebenarnya. Sesaat dia merasa tidak percaya tapi setelah itu dia menangis menyesali semua perbuatannya selama ini dan Ia berjanji jika Vita sadar apapun akan dilakukannya bahkan merelakan Ditya yang sangat disukainya untuk Kakaknya itu.
       Saat itu malam hari, sinar lampu rumah sakit menyilaukan mataku. Aku buka perlahan demi perlahan mataku dan mulai mengerjap-ngerjapkannya. Seluruh tubuhku terasa sakit. Kulihat disamping ku sedang tertidur seseorang, kugerakkan tanganku dan membuat orang itu terbangun dan ternyata Papa. “Akhirnya kamu bangun juga Nak” ujarnya sambil mencium keningku. Aku masih belum bisa memfokuskan pandanganku. Rasa sakit ditubuhku masih begitu terasa. “Aku dimana?”tanyaku dengan suara pelan karena tenggorokkanku terasa kering. “Kamu dirumah sakit Nak” ujar Papa masih dengan senyuman dibibirnya dan tangannya membelai rambutku. Saat ini aku masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Dibelakang Papa aku juga bisa melihat Mama, Kak Rio, Lisa dan Ditya, mereka semua tersenyum padaku, senyum yang tulus dan hangat seakan-akan mereka sangat merindukanku.

Senin, 07 November 2011

Cerpen - SAHABAT KECIL NAILA

“ Siang Rey..” sapa Naila, Ia melemparkan tasnya ke sofa dan berjalan kearahku. Ia mulai memelukku hangat, membelai kepalaku dengan lembut dan mengajakku duduk di sofa. Hari ini aku melihat lagi wajah lusuhnya yang seperti penuh dengan kesedihan.
            “Rey, kau tahu hari ini aku dilukai lagi..” Naila menatapku dengan mata penuh luka dan berkaca-kaca. Naila mulai menitikkan air mata dan air mata itu jatuh tepat diatas kepalaku. Aku tahu siapa orang yang sudah membuat Naila menangis. Ya, pasti Robi, cowok yang sudah hampir dua bulan ini menjadi kekasih Naila. Aku pernah bertemu dengan cowok itu satu kali, itupun saat Naila berulangtahun. Cowok itu memang terlihat keren tapi aku tidak suka dengan sikapnya yang sok cool dan selalu tebar pesona.
            “Hari ini aku lihat dia dengan seorang perempuan...”ujar Naila lagi masih dengan terisak-isak. Ini untuk kedua kalinya Naila terluka oleh laki-laki. Aku hanya bisa menatap sedih mata Naila, aku dekatkan lagi tubuhku padanya dan memberikannya kehangatan. Sesekali aku juga mengelus tangannya yang lembut. Sudah sangat lama aku tidak melihat Naila menangis.
            Ya, sangat lama. Dulu saat aku masih baru bertemu dengannya. Saat itu pertama kalinya aku menatap mata Naila, mata yang menyiratkan kelembutan. Hujan sangat deras saat aku bertemu dengan Naila. Gadis itu berjalan kearahku dengan tergesa-gesa dan kemudian Ia membawaku pulang dan tinggal bersamanya. Hari-hari yang aku lalui bersama Naila sangatlah menyenangkan sampai suatu ketika aku melihat mata indah itu menangis. Naila selalu bercerita kepadaku mengapa dia menangis.
Malam itu Ia bercerita bahwa Ia telah dicampakkan begitu saja oleh kekasih yang selalu mengisi hari-harinya. Ia menangis terisak-isak sangat lama. Sampai mata indah itu terlihat bengkak. Begitu sakitkah hatinya?!. Begitu berhargakah laki-laki itu?!. Entahlah, aku tidak bisa merasakan hal itu. Dan kini, mata indah itu kembali menangis.
            “Kau tahu Rey, perempuan itu adalah sahabatku sendiri..” isaknya lagi, “ aku tidak akan begitu terluka jika perempuan itu adalah orang lain, tapi kenyataannya dia adalah sahabatku sendiri, sahabat yang selalu aku percaya, Rey” ujarnya dan kini sudah mulai sedikit tenang.
Aku begitu terkejut saat Naila mengatakan bahwa perempuan itu adalah sahabatnya sendiri. Aku juga mengenal siapa sahabat Naila itu. Dia sering datang kerumah ini dan terkadang dia juga memberikanku makanan. Ternyata kebaikannya selama ini hanya untuk menutup kebusukannya.
Aku begitu sedih melihat Naila. Ia begitu baik pada siapapun tapi kenapa Ia harus mengalami hal seperti ini. Kini hanya aku yang dapat Ia percaya, hanya aku.
“Rey, kenapa cinta begitu menyakitkan? Tidak bisakah setia hanya pada satu wanita? Apa itu sulit?” ujar Naila pelan.
            Entahlah…aku juga tidak tahu jawabannya.
            Naila tertidur disofa itu. Sesekali air mata keluar dari matanya yang sedang tertutup. Aku menatap Naila yang sedang tidur. Sepertinya Ia begitu lelah, lelah jiwa dan raganya.
***
            “Pagi Rey…” sapa Naila semangat. Aku masih meringkuk di tempat tidurku. Pagi yang dingin, tapi ada yang berbeda pagi ini. Kulihat Naila begitu ceria dan sepertinya dia sudah melupakan kesedihannya beberapa hari yang lalu.
            “Ayo Rey..jangan tidur terus. Ayo kesini temani aku lari pagi” ujar Naila lagi sambil menatap kearahku. Aku bangkit dari tidurku dan sedikit merenggangkan tubuh, lalu aku berlari kecil kearah Naila. Udara pagi membuat seluruh buluku berdiri, jalanan juga masih terlihat sepi tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang sehingga udara yang dihirup tidak berpolusi. Aku masih mengikuti Naila dari belakang. Kini wajah Naila terlihat begitu segar seakan-akan tidak pernah menghadapi masalah apapun.
            “Rey, besok aku akan pergi keluar kota untuk meneliti tugas skripsiku..kau akan dijaga dengan baik oleh Mama” ujar Naila sambil berlari-lari kecil. Aku langsung mendongakkan kepalaku menatap Naila. Aku tahu Naila tidak mungkin membawaku bersamanya. Tidak mungkin kan menjaga seekor kucing saat sedang melakukan penelitian. Aku menatap Naila dengan mata yang terlihat sedih. Naila berhenti berlari dan berjongkok serta menatapku. “Rey, kau adalah sahabat yang paling aku sayangi. Tapi kali ini aku tidak bisa membawamu. Maafkan aku ya!” ucap Naila tulus.
            Aku hanya mendekatkan kepalaku kearah tangannya sebagai jawaban, Naila mengelus kepalaku dengan lembut. Dinginnya tangan Naila bisa kurasakan, setidaknya dengan membelai buluku bisa memberikan kehangatan pada tangan Naila yang dingin karena udara pagi.
            Hari ini Naila selalu bermain bersamaku. Mengajakku jalan-jalan, membelikan aku makanan dan juga memeluk tubuhku yang kecil. Inilah yang selalu Naila lakukan jika Ia harus meninggalkan aku cukup lama. Aku bisa merasakan ketulusan yang Naila berikan untukku. Aku pasti akan sangat merindukan Naila.
                                                                     ***
            Sudah hampir dua minggu Naila pergi. Aku merasa sangat sepi tanpa Naila. Aku duduk termenung diatas bangku yang terdapat di teras depan menanti kedatangan Naila. Setiap hari aku selalu duduk disana. Hari ini pun aku juga duduk disana. Menatap langit mendung , menanti kepulangan Naila. Hujan turun sedikit demi sedikit dan membasahi halaman rumah. Angina berhembus meniupkan aroma tanah yang basah. Aku masih duduk disana, memandangi hujan. Terlintas lagi olehku kenangan saat Naila menemukannku.
            Aku yang masih kecil telah ditelantarkan dan dipisahkan dari Ibuku. Mereka tidak menginginkanku dan hanya memelihara Ibuku. Malam itu saat aku sedang tertidur disamping Ibu ku, seseorang yang kukenal yaitu pemilik Ibu dan aku dulu berjalan pelan-pelan kearahku. Dia mengendong tubuhku yang masih kecil dan memasukkan ku kedalam sebuah kardus kosong. Aku yang saat itu masih sangat kecil tidak bisa melawannya. Dia membawaku keluar rumah dan meninggalkanku dijalanan yang sepi. Aku terus berusaha untuk keluar. Ku coba memanjat sisi lain kardus yang terbuka, namun tetap tidak bisa ku gapai. Lama sekali aku terus berusaha untuk keluar dari kardus itu, sampai tenagaku terkuras dan aku hanya bisa meringkuk didalam kardus kosong, gelap dan juga dingin itu. Semakin lama aku merasa semakin dingin, sampai ada seseorang gadis yang berteduh disamping kardus tempatku berada. Aku berusaha bergerak agar gadis itu menyadari kehadiranku dan benar, dia langsung berjongkok dan membuka kardus itu. Saat itulah aku melihat Naila. Ia tersenyum padaku, mengangkat tubuh kecilku yang kedingan dan memelukku, memberikanku kehangatan tubuhnya.
            “Teman kecil yang malang, kau pasti sangat kedinginan” ucap Naila kecil dan langsung menggendongku. Saat itu aku merasa sangat tenang berada di pelukan Naila. Naila telah menolongku dan memberikanku kasih sayangnya selama ini, karena itulah aku akan selalu menanti Naila kembali dan memelukku lagi.
***
            Hari ini Naila menelpon. Dia menanyakan kabarku, apa aku diberi makan dengan benar? Apa aku selalu dibersihkan? Apa aku sakit dan masih banyak lagi. Aku sangat senang mendengar Naila mengkhawatirkan ku, Naila tidak lupa padaku. Naila juga minta maaf karena baru sempat menelpon dan juga belum bisa kembali kerumah. Tapi bagiku itu tidak apa-apa asalkan Naila tidak melupakan diriku bagiku itu sudah cukup.
            Oh iya, kalian tahu Naila mengatakan akan kembali dalam beberapa hari lagi. Aku tidak sabar menanti hari itu. Aku rindu mendengar suara Naila memanggil namaku. Aku rindu ingin melihat senyum Naila.
            Aku selalu makan tepat waktu, buluku juga selalu dibersihkan. Aku tidak ingin Naila melihat ku kurus, sakit dan tidak terurus. Mama selalu merawatku dengan baik dan Raihan adik kecil Naila selalu mengajakku bermain bersamanya.
            Dua hari telah berlalu semenjak Naila menelpon. Besok Naila akan kemabali kerumah. Naila juga berjanji membelikanku hadiah. Aku tidak sabar ingin mengetahui hadiah apa yang Naila berikan untukku.
            Pagi berganti siang dan siang berganti malam. Aku mencoba untuk tertidur, namun tidak bisa. Mataku tidak mau terpejam. Dipikiranku hanya terbayang wajah Naila yang bahagia. Aku rindu padanya..sangat merindukannya. Aku bangkit dari tempatku dan berjalan menuju jendela yang terbuka. Aku duduk ditepi jendela. Angina malam berhembus pelan mengibaskan buluku yang sudah cukup panjang.
            Lama kupandangi langit yang gelap sampai berubah menjadi jingga dan kemudian berubah menjadi biru. Aku turun dari jendela itu dan berlari keluar rumah. Aku kembali duduk diteras rumah menanti kepulangan Naila. Aku ingin menjadi yang pertama menyambut kedatangan Naila. Aku begitu bersemangat menunggu Naila dengan sabar, tanpa aku sadari waktu terus bejalan. Matahari bergerak perlahan demi perlahan. Langit mulai merubah warnanya yang tadi berwarna biru kini telah berubah berwarna kuning keemasan. Sorepun telah tiba namun aku belum melihat Naila. Seluruh keluarga selalu menelpon dimana Naila sekarang namun belum satu tepon pun yang diangkat Naila. Mama dan Raihan kini duduk bersamaku dibangku yang ada diteras depan, sedangkan Papa terus mencoba menghubungi ponsel Naila. Masih sama, Naila belum mengangkat teleponnya. Merasa gagal menghubungi putri tersayangnya. Papa kembali duduk disamping Mama.
            Tak lama setelah itu, ponsel Papa berdering. Dilihatnya layar ponsel itu, disana tertulis Naila. Papa begitu senang saat melihat nama anaknya dilayar ponselnya. Cepat-cepat diangkatnya ponsel itu. Tak lama mengangkat telepon itu, raut wajah Papa yang tadinya ceria berubah menjadi begitu pucat. Seketika airmatanya mengalir. Melihat suaminya menangis Mama langsung berdiri dan bertanya.
            “Ada apa Pa? siapa yang nelpon?” ujar Mama dengan nada cemas.
            “Putri kita ma..Naila mengalami kecelakaan!”
            Mama yang berdiri di samping papa langsung terduduk kembali. Ia tidak percaya putri satu-satunya kini mengalami kecelakaan. Aku yang masih duduk di pangkuan Raihan juga merasa tidak percaya bahwa Naila mengalami kecelakaan.
            Papa dan Mama langsung pergi kerumah sakit diamana Naila dirawat. Dokter mengatakan bahwa naila mengalami benturan keras dikepalanya dan sebagian tulang kakinya juga mengalami kerusakan. Saat ini Naila masih mengalami koma.
            Setiap hari Papa dan Mama selalu menjenguk naila dan terkadang Raihan juga ikut bersama mereka. Aku juga ingin menjenguk Naila, namun aku tidak bisa kesana. Buluku akan menyebarkan virus bagi mereka yang sedang sakit. Jadi aku hanya bisa menunggu dirumah. Menunggu Naila kembali dengan senyumnya. Hari terus berlalu, bulan pun telah berganti. Papa dan Mama memutuskan untuk merawat Naila dirumah karena Papa sudah tidak sanggup membayar biaya rumah sakit yang cukup mahal.
            Aku melihat Naila tertidur lama sekali. Mata itu tidak pernah terbuka. Tangan itu tidak pernah membelaiku lagi, bibir itu tidak lagi tersenyum padaku. Namun walaupun begitu aku masih bisa merasakan kehangatan tangan Naila. Setiap hari aku selalu menemani Naila yang terbaring tanpa bergerak sama sekali. Sesekali aku meletakkan kepalaku ditangannya agar Ia bisa merasakan hangat dan lembutnya buluku. Kulihat alat-alat medis yang ada disamping Naila bergerak naik turun saat tangan Naila menyentuhku.
            Setiap pagi aku selalu masuk kekamar Naila, menyapanya. Sama seperti Naila yang selalu menyapaku setiap pagi. Terkadang aku duduk diatas kaki Naila dan terkadang aku berjalan-jalan disekeliling ruangan itu. Aku ingin Naila bangun dan menyadari kehadiranku. Sampai suatu pagi, aku dengan tergesa-gesa berlari kekamar Naila dan naik keatas tempat tidurnya. Kudekatkan tubuhku ketangannya dan tiba-tiba tangan itu bergerak. Aku kaget dan juga senang melihat itu. Perlahan demi perlahan kulihat mata Naila terbuka. Kini mata memandangku. Kulihat tatapannya yang kosong, seakan dia belum sadar sepenuhnya, namun lama kelamaan wajah itu tersenyum hangat. Naila telah kembali, aku melompat kearahnya dan Ia memelukku dengan lembut, seperti biasanya. Setelah terlepas dari pelukan Naila aku berlari keluar memanggil seluruh keluarga yang masih berada di meja makan. Awalnya mereka pikir aku ingin makan lagi, namun karena aku masih tidak memakan makanan yang mereka berikan akhirnya mereka mau mendengarkanku. Aku terus mengeong, dan menarik celana Papa agar mengikutiku. Papa, Mama dan Raihan pun akhirnya mengikutiku. Mereka terus berjalan mengikutiku kekamar Naila.
            Saat itu Mama sangat terkejut karena Naila sudah duduk dari posisinya yang semula tidur. Mama langsung memeluk Naila, begitu juga dengan Papa dan Raihan, mereka juga melakukan hal yang sama.
            Kini aku akan selalu menemani hari-hari Naila. Ia berusaha untuk bisa sembuh total dan terus menjalankan terapi. Sesekali Naila bermain bersamaku dan terkadang dia memelukku dan mengatakan “Rey kau adalah sahabat kecilku yang sangat aku sayangi”.
            Benar, aku adalah sahabat kecil Naila, dan selamanya akan selalu menjadi sahabat kecil Naila yang setia.

Senin, 18 April 2011

MY FAMILY

      Pagi ini hujan turun deras seakan mewakili hatiku yang sedang bersedih. Aku masih duduk termenung diteras depan. Masih terngiang-ngiang ditelingaku perkataan Bunda Tarsih kepala yayasan panti asuhan tempatku berada “Ingat Vita, jadilah anak yang baik. besok pagi akan datang keluarga yang akan mengadopsi mu”.
      “haah” desahku.
      Sebenarnya aku tidak ingin pergi dari tempat ini. Disinilah aku dibesarkan dari kecil. Aku memang tidak pernah tahu siapa orang tuaku. Apakah mereka masih hidup? Kalau masih dimana mereka saat ini? Kenpa mereka meninggalkanku disini? Ataukah mereka sudah tidak ada lagi didunia ini. Kalau benar dimana mereka dimakamkan? Aku tidak tahu.
      “Vita..Vita…”
Suara Bunda Tarsih menyadarkanku dari lamunan.
      “Ya Bunda. Aku ada disini” jawabku dengan sedikit berteriak.
Terdengar suara langkah kaki yang cukup berat berjalan menghampiriku.
      “Vita, ayo nak ikut Bunda sebentar. Ada yang mau bertemu denganmu”
      “Siapa Bunda” tanyaku dengan kening berkerut.
      “Nanti juga kamu tahu, yuk”
Bunda Tarsih menarik lenganku dengan lembut, mau tidak mau aku harus ikut dengannya menemui orang itu.
      Saat sampai didepan pintu kantor Bunda Tarsih aku langsung menghentikan langkah kaki ku. Bunda Tarsih bingung dengan sikapku saat itu.
      “Kenapa, ayo masuk”
Aku menggeleng tidak mau. “aku disini saja ya Bunda” pintaku dengan wajah memelas.
Melihat wajahku yang sedih Bunda Tarsih pun meng-iyakan dan masuk kedalam sendiri. Dari luar aku bisa mendengar suara seorang wanita yang menurutku sangat lembut ditelingaku sedang berbincang-bincang dengan Bunda Tarsih. Semakin lama aku mendengar suara Wanita itu membuatku semakin penasaran ingin melihatnya.
      Aku beranikan diri untuk mengintipnya dari balik pintu tapi aku tidak dapat melihatnya dengan jelas karena terhalang oleh pintu besar yang ada dihadapanku ini. Walaupun begitu aku bisa menangkap sedikit mengenai wanita itu. Aku bisa melihat wanita itu sangat cantik dan sepertinya juga sangat ramah.
      Aku tersentak kaget saat Bunda Tarsih memanggil namaku.
      “Vita, ayo masuk nak”   
Sesaat aku ragu untuk melangkahkan kaki ku kedalam ruangan itu. Tapi entah kenapa ada sesuatu yang lebih kuat menarikku untuk masuk kedalam. Setelah berada didalam aku bisa melihat dengan jelas Wanita yang sedang duduk itu tersenyum menatapku. Dari tatapan matanya aku bisa merasakan kehangatan seorang ibu.
     “Nah, ini yang namanya Vita, ayo beri salam sama Bu Kasih nak” ujar Bunda Tarsih memperkenalkanku pada wanita itu.
      Aku berjalan mendekatinya dan mencium tangannya. Dia membalas salamku dengan belaian lembut dikepalaku.
      “Nak, kamu mau kan tinggal dengan Ibu?”
Pertanyaan itu membuatku kaget. Aku tidak tahu harus menjawab apa. kupalingkan wajahku kearah Bunda Tarsih. Dari wajah Bunda bisa kulihat kesedihan sekaligus kebahagiaan. Aku tidak mau mengecewakan Bunda.
      “Iya” jawabku sambil mengangguk.
Kulihat lagi wajah Bunda Tarsih, kini Ia tersenyum bahagia melihatku. Hari itu adalah hari terakhir aku berada dipanti asuhan bersama Bunda Tarsih dan teman-temanku yang lain.
***
10 tahun kemudian
      “Ma, aku berangkat dulu ya” aku mencium tangan Mama yang sedang berada didapur.
      “Vita, kamu gak bareng sama Rio dan Lia”
Aku langsung menggeleng “Aku naik angkot aja ma. Lagian kan dekat” jawabku sambil tersenyum.
      “Kok senang banget sih naik angkot. Padahal kamu bisa diantar sama Pak Norman atau gak ikut kakak kamu naik mobilnya”
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Mama dan berjalan keluar rumah. Hah! Benar dirumah memang banyak mobil, benar aku bisa diantar dengan Pak Norman dan benar juga aku bisa pergi bareng Kak Rio dan Lisa. Tapi itu semua tidak mungkin bisa.
      Sepuluh tahun yang lalu aku datang kerumah ini sebagai anak angkat. Aku tidak tahu kenapa Mama mengadopsiku, padahal Mama sudah punya dua orang anak. Saat datang kerumah ini aku sangat berharap bisa mendapatkan banyak kasih sayang dan cinta. Memang Mama sangat sayang padaku tapi berbeda dengan Papa, Kak Rio dan Lia mereka tidak menyukai kehadiranku disini. Karena itulah aku tidak bisa pergi dengan mereka.
      “Hei..ngalamun aja! ntar kesambet loh”
      Aku terkejut. Ini orang ngagetin aja sih.
Dengan malas kutolehkan mukaku. Ternyata Hesti sahabatku. Dasar usil, kerjaannya ngagetin aja.
      “Biarin….daripada lo pagi-pagi kerjaannya ngagetin orang”
      “Ciee..marah nih..baru gitu doang” goda Hesti
      “Siapa juga yang marah..” jawbku dengan wajah cemberut.
      “Memangnya lagi ngelamunin apa sih?”
      “Ada deh….pengen tau aja”
Hesti terus saja menggoda ku sampai angkot yang kami naiki berhenti didepan gerbang sekolah.
      Kumasuki halaman sekolahku. Saat melangkah masuk seulas senyum sudah menyambut kedatanganku dan Hesti. Ya setiap pagi satpam penjaga sekolah ku ini selalu memberikan senyuman yang hangat.
      Pagi itu suasana kelas seperti biasa, berisik seperti dipasar!. Kulihat teman-temanku sibuk pinjam ini itu dengan yang lain. Pasti mereka belum ngerjain Pr bahasa inggris dari Bu Dian deh.
      “Eh Hes, lo udah ngerjain pr bahasa inggris?”
Hesti langsung menjitak jidatnya dan menggeleng “Gila gue lupa sama Pr nya Bu Dian. Gimana nih? Gue nyontek pr lo deh Vit”
Aku langsung geleng-geleng kepala dengan sikap Hesti. Kalo aku gak kasih liat kasian dia nanti di marahin habis-habisan didepan kelas. Terpaksa kali ini aku harus menolongnya.
      “Tapi cuma kali ini aja lo gue kasih pinjem”
Hesti mengangguk dan langsung menyalin tulisan yang ada dibukuku kedalam bukunya.
      Bel pulang berbunyi. Aku menghela nafas panjang. Seharian ini suasana dikelas membosankan. Apalagi tadi ulangan Bahasa Inggris mendadak. Tambah mumet otakku.
      “Pulang yuk Vit” ajak Hesti
Aku mengangguk, lalu menjejeri langkahnya meninggalkan kelas. Saat sampai dihalaman sekolah, aku melihat Lisa dijemput oleh Kak Rio.
      “Vit, itu Kaka sama adek lo. Gue heran kenapa lo gak pulang bareng mereka aja sih?”
Aku menghela nafas dan tersenyum “Gak kenapa-kenapa kok. Gue lebih suka naik angkot” jawabku bohong.
Aku dan Hesti duduk di halte menunggu angkot yang datang.
***
      “Kak, hari ini bisa tolong antarin aku gak ke ultahnya Risa?” pintaku sambil memelas.
      “Kakak gak bisa. Hari ini Lisa mau liat pameran lukisan, jadi kakak harus nemenin Lisa”
Aku sedih mendengar jawaban yang Kak Rio berikan. Lisa..lisa..lisa terus, memangnya adik Kak Rio itu cuma Lisa ya..Huh! gerutuku dalam hati dan pergi meninggalkan Kak Rio.
      “Ma, Pa..aku pergi dulu ya ke ultahnya Risa” pamitku pada Papa dan Mama yang asik nonton televisi.
      “Pergi sama siapa Nak?” tanya Mama
      “Sendiri Ma, naik angkot” jawabku sambil melirik kearah Papa yang memang tidak pernah peduli padaku.
      “Yaudah, kalo gitu hati-hati ya”
Aku mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan rumah.
      Suasana rumah Risa hari itu sangat ramai, ya jelas aja ramai Risa kan punya banyak teman disekolah ataupun dirumah. Aku duduk termenung di sudut taman. Kulihat Hesti sibuk mondar-mandir mengambil makanan yang disajikan.
      “Hei Vit, lo gak makan?” tanya Hesti yang telah duduk disampingku.
Aku menggeleng “Gue gak laper”
      “Wah rugi loh kalau lo gak nyoba makanannya. Ini enak loh” jawab Hesti sambil menunjukkan berbagai kue yang sudah diambilnya. Melihat kue-kue itu aja aku gak berselera. Hah!
      “Hesti, gue pulang sekarang ya”
Hesti langsung menghentikan makannya dan menatapku heran  “Loh kok gitu?”
      “Gue lagi males aja hari ini. Nih kado gue titip ke lo ya, jangan lupa dikasih ke Risa” ujarku.
      “Lo yakin mau pulang sendiri. Apa mau gue temenin”
Aku tersenyum dan menggeleng “Gak usah. Gue gak apa-apa kok”.
      Wajah Hesti tampak khawatir, namun sedetik kemudian wajah itu kembali ceria.
      “Ya udah kalau mau lo gitu. Hati-hati ya”
Aku mengangguk dan kemudian berlari meninggalkan keramaian rumah Risa.
      Sore hari jalanan dirumah Risa cukup sepi bahkan lebih tepatnya hening. Aku berdiri dibawah salah satu pohon mangga yang ada dipinggir jalan. Angkot yang ditunggu belum juga datang. Eh sekalinya datang udah hampir penuh tapi gak apalah yang penting bisa pulang.
      Angkot yang aku naiki melaju dengan kencang, meliuk-liuk dikeramaian jalan. Semua orang yang melihat geleng-geleng kepala bahkan ada yang sampai memaki-maki. Semua penumpang yang ada didalam mobil juga ikut-ikutan marah, bahkan ada ibu-ibu yang menasehati agar jangan ngebut dijalan. Tapi walaupun begitu angkot yang aku naiki ini tetap melaju dengan cepat. Saking cepatnya sampai-sampai ada sebuah truk yang akan berbelok dan mobil yang aku naiki tidak bisa berhenti, akhirnya kecelakaan itu tidak bisa dihindari lagi dan terjadilah tabrakan itu.
      Saat itu tubuhku terhempas kebelakang dan mengenai kaca yang pecah. Aku merasa tubuhku sangat sakit dan samar-samar mendengar suara orang-orang berkerumun namun saat itu pandanganku semakin gelap..gelap..dan gelap.
***
      “Apa?!” suara Bu Kasih memecahkan keheningan. Dari mata indahnya menetes sebutir air bening..Ia menangis. Pak Sofyan suaminya yang saat itu ada disana melihatnya dengan perasaan bingung karena saat itu istrinya menangis. Ia kemudian berjalan mendekati istrinya dan masih dilihatnya mata indah itu masih mengeluarkan air mata.
      “Pa, Vita…vita” ujarnya lirih
      “Hah, anak itu lagi. Apalagi sekarang ulahnya” ucap Pak Sofyan sinis
      “Vita kecelakaan Pa” ujar Bu Kasih dengan suara bergetar.
Mendengar hal itu Pak Sofyan tidak menunjukkan ekspresi apapun. Melihatnya Bu Kasih menjadi marah.
      “Apa Papa gak punya hati. Ingat Pa, Vita itu anak kandung Papa”
      “Praaanggg..” terdengar suara gelas pecah.
Bu Kasih dan Pak Sofyan kaget saat mendengar itu. Mereka langsung melihat kearah sumber suara dan disana telah berdiri Rio dan Lisa yang tertegun tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
      “Jadi…Vita itu adik kandung Rio Pa. Benar Pa?” tanya Rio. Pak Sofyan hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan anaknya itu.
      “Pa, tolong jawab pertanyaan Rio ini Pa. Ma, tolong jawab ma” kini matanya beralih kearah Mamanya.
Bu Kasih menghela nafas dan mulai berkata “Iya Rio, Vita itu adik kandung kamu dan kakak kandung kamu Lisa” ujar Bu Kasih sambil menatap Rio dan Lisa.
      “Tapi..tapi itu kan gak mungkin Ma.” ucap Lisa tak percaya. Bu Kasih akhirnya harus menceritakan semua rahasia yang selama ini disimpannya sendiri. Rio menatap marah kepada Papanya.
      “Lalu sekarang Vita ada dimana Ma?” tanya Rio
      “Vita ada dirumah sakit. Sekarang Mama mau kesana, kalian mau ikut?”
Rio dan Lisa mengagguk berbarengan. Mereka mengikuti Bu Kasih dari belakang.
Pak Sofyan masih duduk termenung diruangan itu. Kesunyian membawanya ke masa lalu. Ya Vita adalah anak kedua dari istrinya yang telah meninggal karena itu Ia sangat membenci Vita. Sangat lama Ia duduk termenung mengenang masa lalu sampai Ia teringat kembali janjinya pada Anisa istri yang sangat dicintainya namun telah pergi kepangkuan Tuhan “Pa, kalau anak kita lahir dan Mama gak bisa nemenin Papa lagi..Papa mau kan menjaga anak-anak kita, memberikan mereka banyak cinta dan kasih sayang” kata-kata itu terus bergema diruangan sunyi itu. Benar saat itu Ia sudah berjanji untuk menyayangi dan mencintai anak-anaknya walau istrinya tidak ada didunia ini lagi, tapi kenyataannya Ia telah mengingkari janjinya pada Anisa. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya yang sayu. Ia menangis, menyesal karena telah mengingkari janjinya pada Anisa, menyesal karena telah membuang anak perempuan satu-satunya yang diberikan Anisa. Hari ini Ia benar-benar menyesal.
      Dokter-dokter terus keluar masuk ruang itu, ruangan dimana Vita kini terbaring tak berdaya, ruangan dimana Vita harus berjuang untuk hidup.
      “Dokter, bagaimana keadaan anak saya” tanya Bu Kasih
      “Saat ini kondisi pasien sangat kritis, dia mengalami luka yang cukup parah. Kaca menancap sangat dalam pada punggunngya, kami harus berhari-hati untuk mengeluarkannya dan lagi pasien juga kekurangan banyak darah. Saya minta Ibu berdoa saja agar operasi ini berjalan lancar”. Mendengar penjelasan dokter air mata Bu Kasih kembali mengalir. Ia seakan tak sanggup lagi berdiri hingga Lisa harus memeganginya. Sedangkan Rio merasa sangat bersalah, kenapa Ia tidak mau mengantar adiknya itu tadi, Ia sangat membenci dirinya saat ini.  Operasi yang dilakukan memakan waktu sekitar tiga jam. Bu Kasih, Rio dan Lisa masih menunggu diluar tanpa beranjak sedikitpun. saat sedang menunggu, mereka tidak menyangka kalau Pak Sofyan sudah berada disana.
      “Papa!” ucap Rio kaget . Pak Sofyan berjalan mendekati keluarganya.
      “Nak, maaf kan Papa karena tidak memberitahu kamu yang sebenarnya. Papa menyesal” ujar Pak Sofyan sambil menangis. Bu Kasih yang melihat berjalan menghampiri suaminya dan memeluk suaminya. Ia tahu saat ini suaminya benar-benar telah menyesali semua perbuatannya.
     Pak Sofyan melepaskan pelukannya dan menghapus sisa air matanya “Bagaimana keadaan Vita Ma?” tanya Pak Sofyan. Bu Kasih hanya menggeleng tidak tahu, karena dokter masih belum memberitahukannya keadaan putrinya itu. Ketika mereka duduk termenung diruangan Rumah Sakit itu tiba-tiba seorang dokter keluar dan memberitahukan mereka bahwa operasinya berjalan lancer dan pasien akan dipindahkan keruangan pemulihan. Sudah hampir tiga hari Vita tidak sadarkan diri. Pak Sofyan, Bu Kasih, Rio dan Lisa bergantian menjaganya.
      Saat itu malam hari, sinar lampu rumah sakit menyilaukan mataku. Aku buka perlahan demi perlahan mataku dan mulai mengerjap-ngerjapkannya. Seluruh tubuhku terasa sakit. Kulihat disamping ku sedang tertidur seseorang, kugerakkan tanganku dan membuat orang itu terbangun. Orang itu bangun dan kalian tahu siapa dia…Ya dia Papa.
      “Akhirnya kamu bangun juga Nak” ujarnya sambil mencium keningku. Aku masih belum mengerti kenapa Papa berubah tapi itu membuat ku bahagia, sedetik kemudian kulihat Mama, Kak Rio dan Lisa masuk keruangan itu dan tersenyum padaku. Aku tidak tahu kenapa tapi kecelakaan itu membuatku hidup kembali dan mendapakkan sebuah keluarga. Ya mereka adalah keluargaku yang akan selalu menyayangiku selamanya. They is my Family.


   

Sabtu, 18 Desember 2010

Khasiat Dan Manfaat Buah-Buahan Alami Bagi Tubuh Manusia - Ilmu Kesehatan Masyarakat

Buah adalah salah satu jenis makanan yang memiliki kandungan gizi, vitamin dan mineral yang pada umumnya sangat baik untuk dikonsumsi setiap hari. Dibandingkan dengan suplemen obat-obatan kimia yang dijual di toko-toko, buah jauh lebih aman tanpa efek samping yang berbahaya serta dari sisi harga umumnya jauh lebih murah dibanding suplemen yang memiliki fungsi yang sama.

Di bawah ini kita dapat melihat kandungan, khasiat dan manfaat sehat dari beberapa jenis buah yang ada di bumi :
1. BUAH TOMAT (TOMATO)
- tomat mengandung vitamin A, B1 dan C.
- tomat dapat membantu membersihkan hati hati dan darah kita.
- tomat dapat mencegah beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. gusi berdarah.
b. rabun senja / kotok ayam.
c. penggumpalan darah.
d. usus buntu.
e. kanker prostat dan kanker payudara.
2. BUAH PEPAYA (PAPAYA)
- pepaya mengandung vitamin C dan provitamin A.
- pepaya dapat membantu memecah serat makanan dalam sistem pencernaan.
- pepaya dapat mebuat lancar saluran pencernaan makanan.
- pepaya dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menyembuhkan luka.
b. menghilangkan infeksi.
c. menghilangkan alergi
3. BUAH PISANG (BANANA)
- pisang mengandung vitamin A, B1, B2 dan C.
- pisang dapat membantu mengurangi asam lambung.
- pisang bisa membantu menjaga keseimbangan air dalam tubuh.
- pisang dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. gangguan pada lambung.
b. penyakit jantung dan stroke
c. stress
d. menurunkan kadar koleterol dalam darah.
4. BUAH MANGGA (MANGO)
- mangga mengandung vitamin A, E dan C.
- mangga dapat bertindak sebagai disinfektan.
- mangga dapat membersihkan darah.
- mangga dapat menanggulangi atau mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. bau badan / bb / bau tubuh yang tidak enak.
b. menurunkan panas tubuh saat demam.
5. BUAH STRAWBERRY (STRAWBERRY)
- stoberi mengandung provitamin A, vitamin B1, B dan C.
- stobery mengandung antioksidan untuk melawan zat radikal bebas.
- strawbery memiliki kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. mengobati gangguan kesehatan pada kandung kemih.
b. menjadi anti virus
c. menjadi anti kanker
6. BUAH APEL (APPLE)
- apel mengandung vitamin A, B dan C.
- aple dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah.
- apel mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menjadi zat anti kanker.
b. mengurangi nafsu makan yang terlalu besar.
7. BUAH JERUK (ORANGE)
- jeruk mengandung vitamin A, B1, B2 dan C.
- jeruk mengandung antikanker bagi tubuh.
- jeruk dapat mencegah dan mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. mengobati sariawan.
b. menurunkan resiko terkena kardiovaskuler, kanker, dan katarak.
8. BUAH PEAR / PIR (PEAR)
- pear mengandung vitamin C dan provitamin A.
- pear mengandung anti oksidan yang baik untuk menjaga kesehatan.
- pear dapat mencegah beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menurunkan demam / panas tubuh.
b. mengencerkan dan menhilangkan dahak pada batuk berdahak.
9. BUAH JAMBU BIJI MERAH / JAMBU MERAH (GUAVA)
- jambu merah mengandung vitamin C yang sangat banyak.
- jambu merah mengandung zat antioxidan dan antikanker.
- jambu merah mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menurunkan kadar kolesterol darah
b. mengobati infeksi.
c. menjaga mengobati sariawan.
d. memperlancar peredaran darah.
e. melancarkan saluran pencernaan.
f. mencegah konstipasi.
10. BUAH SEMANGKA (WATERMELON)
- semangka mengandung vitamin C dan provitamin A.
- semangka dapat menjadi antialergi.
- semangka mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
seperti :
a. menurunkan kadar kolesterol.
b. mencegah dan menahan serangan jantung.
11. BUAH MELON (HONEYDEW)
- melon mengandung vitamin C dan provitamin A.
- melon mengandung zat anti kanker dan anti oksidan.
- melon mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. mencegah darah menggumpal.
b. membersihkan kulit.
c. menlancarkan saluran pencernaan.
d. menurunkan kadar kolestrerol.
12. BUAH WORTEL (CARROT)
- wortel kaya akan vitamin A.
- wortel baik untuk menjaga kesehatan mata.
- wortel mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. meningkatkan kekebalan dan ketahanan tubuh jasmani.
b. menjaga hati tetap sehat.
13. BUAH BELIMBING (STAR FRUIT)
- belimbing mengandung vitamin C dan provitamin A.
- belimbing dapat membantu memperlancar pencernaan makanan.
- belimbing mempunyai kegunaan / fungsi kesehatan lain seperti :
a. menurunkan tekanan darah.
b. menurunkan kadar / tingkat kolesterol dalam tubuh.
14. BUAH NANAS (PINEAPPLE)
- nanas mengandung vitamin B dan C.
- nanas dapat mencegah terkena serangan jantung dan stroke / struk.
- nenas dapat mengobati beragam penyakit dan gangguan kesehatan lain seperti :
a. menyembuhkan luka.
b. menyembuhkan infeksi pada saluran pencernaan.
Untuk menjadi sehat alami tanpa bahan kimia makanlah berbagai buah secukupnya setiap hari demi kesehatan badan kita yang sangat berharga.

Sumber : http://organisasi.org/khasiat-dan-manfaat-buah-buahan-alami-bagi-tubuh-manusia-ilmu-kesehatan-masyarakat

Jumat, 17 Desember 2010

BOCAH YANG MENCINTAI MATEMATIKA DAN KOMIK

di poskan oleh : silvia

Jember (beritajatim.com) - Seorang bocah berusia belasan tahun mencintai matematika dan komik sekaligus. Ia mencintai logika, proposisi-proposisi logis, juga fantasi: kelak menjadi juara matematika tingkat dunia.

Bocah itu, Muhammad Adnan Reza. Ia dilahirkan 19 Januari 1997. Seorang anak yang tumbuh setelah Orde Baru tumbang, dan gelombang keterbukaan menggulung Indonesia. Internet. Tayangan-tayangan stasiun televisi swasta yang semakin berjibun. Buku-buku komik impor terjemahan dari Jepang. Dunia pendidikan dengan kurikulum yang memaksa anak tumbuh lebih cepat, mempelajari lebih banyak daripada anak-anak usia yang sama pada generasi sepuluh tahun sebelumnya.

Reza sudah mulai menyukai komik saat berusia empat tahun. Menginjak tahun kelima, ia mengenal matematika sederhana: penjumlahan dan pengurangan. 1+1 = 2, 4-1 = 3, 3+3 = 6. Dan, ia jatuh cinta dengan angka-angka itu, dan kelak tak suka dengan pelajaran apapun yang dihapal.

Dari matematika, Reza belajar tentang nalar yang logis dan runtut. Ia menyukai aljabar, bukan geometri yang dipenuhi rumus. Setiap malam selama dua jam, ia berlatih, mendisplinkan diri dengan angka-angka, bilangan-bilangan.

Ia membayangkan dirinya seorang yang tengah berjuang keras menjadi jawara matematika dunia, kelak. Tidak ada yang lebih memuaskan, selain berhasil menuntaskan soal-soal matematika kompetisi International Wizard Youth Mathematics yang diunduhnya dari internet.

Reza meneruskan tradisi kuno di dunia Matematika. Sejak abad pertengahan, para ahli dan jawara saling tantang saling memecahkan soal yang mereka buat. Steve Olson dalam bukunya, Countdown, menuliskan: "di masa ketika para ahli matematika masih amatir, mereka bisa membangun reputasi dengan memecahkan soal-soal yang tak mampu dijawab orang lain".

Berkebalikan dengan prasangka orang banyak, para ahli matematika ini, bahkan yang remaja, bukanlah tipe orang dengan penampilan tak menarik, serius, dan kening selalu berkerut. Olson menulis, para siswa anggota tim olimpiade dunia matematika dari Amerika Serikat bukanlah stereorip kutu buku.

Paul Zeitz, anggota tim olimpiade matematika AS yang bertanding di Jerman Timur pada tahun 1974, sampai saat ini adalah seorang pemanjat tebing dan pendaki gunung. Ia kini menjadi guru besar matematika di Universitas San Fransisco. "Agar berhasil baik dalam matematika, orang harus teliti sekaligus petualang yang baik," katanya.

Reza bukan Paul Zeitz atau para jagoan matematika dalam buku Olson. Namun, sebagaimana mereka, Reza mengusir stereotip sosok yang serius dalam diri seorang pecandu matematika. Ia tidak memanjat tebing, namun Reza mencintai komik-komik Jepang (manga) sebagaimana layaknya para remaja lain seusianya yang mungkin membenci matematika.

Ia menyukai Detektif Conan. Ini cerita tentang seorang detektif SMA bernama Sinichi Kudo yang mendadak berubah menjadi bocah usia delapan tahun, karena terkena cairan kimia. Bocah berusia delapan tahun ini menyebut dirinya Conan Edogawa, seorang detektif cilik yang bekerja dengan logika deduksi yang runtut.

Ia sangat menyukai Eyeshield 21: komik tentang sebuah tim olahraga American Football. "Saya suka, karena ada cerita taktiknya," katanya. Lagi-lagi soal logika.

Kian hari Reza kian jago, dan hari-hari ini menjadi salah satu andalan sekolahnya, SMP Negeri 2 Jember. Namun, Reza tampak tak peduli dengan kejagoannya itu. Ia tak ingat berapa kali menjadi juara kompetisi matematika sejak sekolah dasar. Yang ia ingat, ia butuh mandi jika hendak mengerjakan soal-soal matematika yang rumit dalam sebuah kompetisi.

Medan, suatu hari di awal Agustus 2010. Entah kenapa mendadak air kamar mandi penginapan Reza macet. Gawat juga, karena pagi itu ia harus mengikuti olimpiade sains nasional. Ini sudah hari kedua lomba. Terpaksalah ia hanya mencuci muka alakadarnya saja.

Di ruang ujian, sebelum mengerjakan soal-soal, Reza menelpon kedua orang tuanya dan seorang guru di sekolah. Ia belum mandi, dan ia berharap doa orang-orang yang dihormati dan disayanginya akan membantunya.

Hanya lima soal yang perlu dikerjakan olehnya. Tapi otaknya serasa berkabut. "Saya tidak bisa berkonsentrasi," katanya. Gara-gara tak mandi, ia pun cukup merasa beruntung dengan raihan medali perunggu, setelah bersaing dengan 98 orang pelajar lainnya dari seluruh Indonesia.

Ada banyak siswa seperti Reza di Indonesia. Tapi yang jelas mereka minoritas. Sementara, para guru dan pejabat di dunia pendidikan di Indonesia suka-suka cepat berbangga hati, bahwa anak-anak seperti Reza adalah wujud keberhasilan sistem pendidikan. Lalu anak-anak seperti itu biasanya mendapat perlakuan lebih khusus dibanding siswa lain yang 'biasa-biasa saja'.

Saya sendiri masuk dalam kelompok orang yang ragu, bahwa Reza adalah bentuk keberhasilan sistem pendidikan. Jangan-jangan Reza memang punya gen dan bakat alam untuk menjadi jenius di bidang matematika. Lagipula, ada berapa banyak sih siswa yang bisa menjadi juara matematika walaupun mandi belasan kali sehari di rumah.

"Di Rumania, ketika orang tahu kau seorang jago matematika, mereka akan berkata, 'aku dulu pintar matematika'. Dan yang bicara begitu adalah para supir taksi. Itulah sebabnya tim-tim (olimpiada matematika) dari Eropa Timur berhasil baik, karena matematika adalah bagian dari budaya mereka," kata Titu Andreescu, Direktur Kompetisi Matematika Amerika Serikat.

Saya tidak sedang ingin berdebat tentang kapan atau bagaimana Matematika bisa menjadi bagian dari budaya kita. Mungkin jika kita sudah bisa memahami bahwa matematika bukanlah sekadar angka, tapi seperti kata Zeitz: matematika adalah kegiatan yang amat sosial, tentang bagaimana kita merenung dan memecahkan persoalan sehari-hari dengan runtut, logis, dan sistematis.

Mungkin, kita membutuhkan anak-anak seperti Reza, yang sampai kapanpun, tetap membawa semangat seorang bocah yang mencintai matematika dan komik. [wir]

sumber : http://www.beritajatim.com/detailnews.php/11/Pendidikan_&_Kesehatan/2010-08-29/75752/Bocah_yang_Mencintai_Matematika_dan_Komik?kanal=11&article=&tgl=2010-08-29&newsid=75752&addkomentar&

Senin, 06 Desember 2010

ANAK BERKESULITAN BELAJAR

 ANAK BERKESULITAN BELAJAR
Diposting oleh Silvia

Setiap anak adalah pribadi yang unik, begitu pula dengan anak berkesulitan belajar. Walau mereka memiliki jenis kesulitan yang sama, mereka tentu punya kelebihan ataupun kekurangan yang berbeda satu dengan yang lain.
Bagi orangtua, anak adalah sebuah representasi keberhasilan keluarganya. Karena itu, keberhasilan dalam belajar anaknya merupakan salah satu faktor penting dan diharapkan. Keberhasilan belajar anaknya akan mampu mengembangkan konsep diri yang positif bagi sang anak, selanjutnya akan sangat berguna di kemudian hari. Namun, bagi beberapa anak-anak berkesulitan belajar proses belajar tidaklah mudah, mereka memiliki kendala yang datang dari dalam dirinya.Kesulitan belajar atau gangguan belajar (learning disorder, LD) adalah gangguan belajar pada anak yang ditandai
dengan adanya kesenjangan yang signifikan antara taraf intelegensi dengan kemampuan akademik yang seharusnya dicapai. Anak berkesulitan belajar adalah salah satu dari mereka yang berada dalam kelompok anak berkebutuhan khusus (children with special needs). Mereka adalah anak yang memiliki disfungsi minimum otak (DMO), sehingga menyebabkan tercampur aduk-nya sinyal-sinyal di antara indera otaknya atau terjadi gangguan di dalam sistem saraf pusat otak (neurobiologist) yang menimbulkan gangguan berbagai perkembangan, misalnya gangguan berbicara, berbahasa serta kemampuan akademik.
Anak-anak ini mengalami kesulitan bila harus belajar secara ‘biasa’ seperti halnya anak-anak yang lain. Mereka perlu diarahkan bagaimana cara belajar bagi dirinya, bagaimana memulai dengan suatu tugas, bagaimana mengarahkan perhatian, mengamati, mendengarkan instruksi bahkan bagaimana mengarahkan beberapa proses pada saat yang bersamaan. Singkat kata, mereka memerlukan pendekatan penanganan yang beda dengan pendekatan yang biasa dilakukan anak-anak lain seusianya.Bila tidak ditangani dengan baik dan benar, mereka akan mengalami gangguan emosional (psikiatrik) dan akan berdampak buruk bagi perkembangan kualitas hidup anak di kemudian hari. Anak berkesulitan belajar, biasanya tampil kurang dewasa dibanding teman-teman seusianya dan kesulitan belajar ini juga mempengaruhi koordinasi fisik dan perkembangan emosional anak. Selain itu, anak berkesulitan belajar sulit memahami isyarat-isyarat sosial yang ada dalam kehidupan bermasyarakat.
Akibatnya, mereka terlihat seperti mempunyai kebiasaan sosial yang berbeda dengan lingkungannya. Tentu saja, hal ini membuat masyarakat di lingkungannya sulit untuk menerima, bahkan akan cenderung mengucilkannya. Secara umum, penanganan anak-anak berkesulitan belajar memiliki tujuan untuk membangkitkan kesadaran tentang dirinya, kemudian mengembangkan kelebihan dan meminimalkan kesulitan/kekurangan dalam dirinya. Dan, ini yang penting, menga-rahkannya untuk dapat mencari jalan keluar (solusi) dari permasalahan yang akan dihadapi nanti untuk menjadi seseorang yang mandiri.Untuk menangani anak berkesulitan belajar diperlukan kerjasama yang baik dan positif antara orangtua (terutama), guru di sekolahnya dan beberapa profesional seperti dokter anak, psikiater anak, psikolog, terapis.
Diperlukan upaya serius dan berkesinambungan untuk melaksanakan penanganan anak berkesulitan belajar. Anak-anak berkesulitan belajar, biasanya merasa frustrasi karena sering mengalami kegagalan dalam menyelesaikan tugas atau pun langkah-langkah untuk diri sendiri. Dalam benak mereka, apa pun yang dilakukan selalu sia-sia, tak ada artinya, negatif dan lain sebagainya, pada intinya adalah selalu mengalami kegagalan. Tentu saja, kondisi semacam ini menjadi kontra produktif, mereka kemudian menjadi sensitif, tidak mudah untuk percaya pada orang lain bahkan (mungkin) terhadap orang yang paling dekat dengan dirinya, dalam hal ini adalah orangtua. Untuk mengetahui apakah seorang anak memiliki kecenderungan berkesulitan belajar diperlukan pendeteksian yang cermat. Namun, secara umum bisa dilakukan hal-hal seperti di bawah ini:
PADA USIA PRA-SEKOLAH
1. Terlambat bicara disbanding dengan anak seusianya
2. Memiliki kesulitan dalam pengucapan beberapa kata
3. Dibanding anak seusianya, penguasaan jumlah katanya lebih sedikit (terbatas)
4. Sering tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk satu kalimat yang akan dikemukakan
5. Sulit mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari
6. Sulit merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat
7. Sering gelisah yang berlebihan
8. Mudah terganggu konsentrasinya
9. Sulit berinteraksi dengan teman seusianya
10. Sulit mengikuti instruksi yang diberikan untuknya
11. Sulit mengikuti rutinitas tertentu
12. Menghindari tugas-tugas tertentu, misalnya menggunting dan menggambar
PADA USIA SEKOLAH
1. Daya ingatnya terbatas (relatif kurang baik)
2. Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, Misalnya atau biasanya, huruf d dibaca b (misalnya duku dibaca buku atau sebaliknya buku dibaca duku), w dibaca m (misalnya waru dibaca baru atau sebaliknya baru dibaca waru), p dibaca q , w dibaca m dan lain sebagainya. Bila ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar disleksia.
3. Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya.
4. Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika. Misalnya, tak dapat membedakan arti dari simbol – (minus) dengan simbol + (plus), simbol + dengan simbol x (kali) dan lain sebagainya.
5. Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingatnya.
6. Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas. Kalau ini yang terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar hiperaktif atau GPPH (gangguan pemusatan pemikiran dan hiperaktifitas)
7. Impulsif (bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu)
8. Sulit berkonsentrasi
9. Sering melanggar aturan yang ada, baik di rumah maupun di sekolah
10. Tidak mampu berdisiplin (sulit merencanakan kegiatan sehari-harinya)
11. Emosional (sering menyendiri), pemurung, mudah tersinggung, cuek terhadap lingkungannya
12. Menolak bersekolah
13. Tidak stabil dalam memegang alat-alat tulis
14. Kacau dalam memahami hari dan waktu
PADA USIA REMAJA/DEWASA
1. Sulit/salah mengeja huruf berlanjut hingga dewasa
2. Masih saja sering menghindar dari tugas-tugas membaca dan menulis
3. Mungkin saja lancer dalam membaca tapi tidak mengerti atau tidak bisa menjelaskan apa yang telah dibacanya
4. Sulit menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/atau tulisan
5. Daya ingatnya terbatas
6. Sulit menangkap konsep-konsep yang abstrak
7. lamban dalam bekerja
8. Sering tidak telitu (ceroboh) pada hal-hal yang seharusnya rinci atau malah sebaliknya justru terlalu focus kepada hal-hal yang rinci
9. Bisa salah (distorsi) dalam membaca informasi
Anak-anak berkesulitan belajar perlu mengetahui bahwa orangtua maupun guru yang akan membimbingnya dapat merasakan apa yang mereka rasakan/alami. Dengan kata lain, orangtua ataupun guru harus memiliki empati terhadap dirinya. Dengan begitu, secara bertahap mereka akan bisa terbuka – selanjutnya, mengemukakan keluhan-keluhannya – untuk mendapatkan pengarahan dan mencoba untuk mengatasi kesulitan belajarnya.
Orangtua maupun guru harus menyadari bahwa setiap anak adalah pribadi yang unik, tidak bisa digebyah uyah (digeneralisasi), masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kematangan yang mereka alami berbeda satu dengan lainnya sekalipun memiliki jenis kesulitan yang sama. Karena itu, kebutuhan penanganannya pun berbeda dengan sentuhan-sentuhan yang individual untuk mengembangkan potensi yang dimiliki. Anak berkesulitan belajar memerlukan lingkungan yang hangat, penuh canda untuk memberi semangat agar merasa tidak sendiri (dikucilkan).
Mereka akan lebih berkembang secara positif bila berada dalam lingkungan yang penuh larangan, ancaman hukuman bahkan jika mungkin sebaiknya hindarkan hukuman yang sifatnya fisik. Lebih baik melihat kelebihan-kelebihannya, daripada selalu mengungkit kekurangan-kekurangan atau kenakalan-kenakalannya. Namun, kita harus selalu konsisten dengan aturan-aturan yang ada, hingga mereka akan merasa aman, memperoleh batasan mana yang boleh dan mana yang dilarang.
Melihat hasil pendeteksian di atas, sebaiknya kita mengajarkan pada mereka dalam menyelesaikan tugas untuk memisah-misahkan langkah-langkah yang diperlukan. Kemudian menyusun secara logis urutan-urutan yang harus dilakukan. Seperti halnya dalam aktivitas menulis. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengarahkan anak untuk memegang pensil dengan benar. Bila masih sulit, sebaiknya diberikan latihan-latihan (terapi) untuk penguatan otot tangan (misalnya dengan bermain play doh, busa sabun dan lain sebagainya).
Anak berkesulitan belajar selalu mengalami kesulitan bila mengorganisasikan dirinya. Barang-barang miliknya berserakan tak teratur. Sehingga perlu diberi struktur yang benar oleh guru maupun orangtuanya. Tujuannya adalah untuk mengetahui ruang geraknya dengan cara memberikan batasan yang jelas, apa yang boleh dan apa yang dilarang.Orangtua bisa memberikan kepada mereka rutinitas kegiatan, seperti misalnya menempatkan setiap barangnya pada tempat yang telah disediakan, menjelaskan satu per satu yang akan dialami anak setiap harinya. Berangkat ke sekolah, usai sekolah akan pergi ke tempat terapi, setelah itu pulang ke rumah. Struktur bisa pula dikembangkan dengan cara menyederhanakan pilihan. Seperti “kamu mau pakai kaos merah atau biru?” daripada mengatakan “kamu mau pakai baju yang warna apa?”. Bila Anda seorang guru, berikanlah kepada siswa-siswi terutama untuk anak yang berkesulitan belajar struktur dengan cara menentukan kegiatan yang akan dilakukan di kelas setiap hari di awal pembelajaran, menyiapkan anak saat kelas akan berakhir atau memberikan peringatan terhadap perubahan-perubahan rutin.
Struktur yang diberikan saat mengerjakan tugas adalah menjelaskan tujuan apa yang diharapkan dari tugas yang sedang dilakukan, bagimana contoh nyata dan cara kerja yang diharapkan. Hal semacam ini akan lebih baik bila dapat ditulis dengan sederhana sehingga dapat dilihat sekaligus difahami. Dengan adanya struktur ini, diharapkan mereka akan lebih mudah berkonsentrasi pada tugasnya. Hindarkan materi yang sulit difahami apalagi dalam jumlah yang banyak, kemudian pakailah bahasa yang sederhana dan singkat.Anak berkesulitan belajar dalam belajar membutuhkan penggunaan setiap saluran indera. Tujuannya adalah agar mereka memperoleh pengetahuan sekaligus mempertahan-kannya di dalam ingatan.
Pengalaman menyentuh, merasakan, mencium, melihat, mendengar dan melakukan akan dapat mengorganisasikan dan mengintegrasikan informasi di dalam otaknya. Sudah sama-sama kita pahami bila anak berkesulitan belajar sangat sulit menangkap konsep yang abstrak. Karena itu, ajaklah mereka melalui benda-benda yang nyata terlebih dahulu atau bisa pula melalui gambar-gambar yang mudah dipahami karena pengalaman terhadap obyek-obyek yang nyata akan lebih mudah melekat dalam ingatan dan bisa segera dikeluarkan saat dibutuhkan. Tentu saja semua itu akan menjadi lengkap bila melalui pendekatan multi-disiplin antar-profesional, seperti yang telah disebutkan di atas.
Menangani anak berkesulitan belajar adalah sebuah proses panjang yang membutuhkan kesabaran. Tak mungkin dilakukan secara instan dan terburu-buru.Sejarah telah mencatat, beberapa nama besar adalah mereka yang terdeteksi sebagai anak berkesulitan belajar. Salah satunya adalah Thomas Alva Edison, sang penemu lampu pijar. Bayangkan, bila Edison tak memiliki orangtua (baca; seorang ibu) yang begitu yakin akan kemampuan anaknya dan memiliki kesabaran yang luar biasa. Ibu Edison tidak menyerah begitu saja ketika anaknya ditolak di beberapa sekolah karena dianggap anak bodoh. Barangkali hingga saat ini kita tak akan pernah menikmati sinar terang di malam hari dari lampu-lampu atas jasa penemuan Thomas Alva Edison.Anak berkesulitan sangat memerlukan penanganan yang benar dan ke-sabaran kita.
Yakinlah!

Sumber
http://specialneedskid.wordpress.com/2008/09/11/mengenal-anak-berkesulitan-belajar/